nuffnang

Thursday, December 8, 2016

Mahalnya Lesen...

TERKULAT-KULAT sekejap bila melihat ‘quotation’ RM1,800 oleh pihak sekolah memandu untuk mengambil lesen memandu kereta kelas D (auto). Mungkin murah bagi individu berpendapatan tinggi yang hanya mempunyai seorang atau dua orang anak, tetapi bagaimana pula dengan kumpulan lain.

Dikatakan ada juga sesetengah mengenakan bayaran sehingga RM2,500. Sewajarnya, pihak Jabatan Pengangkutan Jalan (JPJ) dan Persatuan Institut Memandu Malaysia (Pima) mengendurkan sedikit keluh kesah ibu bapa mengenai caj yang dikenakan ini. Adakah mengikut kadar tukaran mata wang asing atau berdasarkan harga minyak dalam pasaran dunia?

Lazimnya lesen kereta bakal diambil oleh pelajar lepasan Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) bagi mengisi ruang masa sementara menunggu keputusan peperiksaan yang biasanya diumumkan pada Mac atau April tahun depan.

Jadi, mereka inilah potensi pelanggan yang bakal memberikan pendapatan agak lumayan kepada sekolah-sekolah memandu. Untuk makluman, baru-baru ini terdapat seramai 434,535 orang calon menduduki SPM di seluruh negara.

Ini bermakna jika kesemuanya berpakat untuk mengambil lesen sekurang-kurangnya untuk kelas D (kereta) tidak termasuk motosikal atas kadar bayaran RM1,800 seorang, maka sebanyak RM782,163,000.00 akan bertukar tangan kepada pengusaha sekolah memandu - macam tidak logik?

Baiklah kita andaikan hanya separuh sahaja daripada calon berkenaan, iaitu hanya 217,267.5 orang mengambil lesen, bermakna sebanyak RM391,081,500.00 bakal bertukar tangan. Setiap tahun pelanggan sekolah memandu akan tetap bertambah kerana ia selari dengan jumlah calon menduduki SPM, kecuali jika kerajaan dalam masa terdekat berhasrat untuk memansuhkannya.

Bakal pelajar ini berniat baik untuk melakukan sesuatu yang patuh undang-undang negara, jadi berikanlah galakan dan dorongan, jangan susahkan mereka. Contohnya, kerajaan galakkan rakyat untuk mengamalkan gaya hidup sihat dan celik teknologi maklumat, maka dilaksanakan sedikit pengecualian dalam cukai taksiran bagi pembelian komputer dan keperluan sukan.

Tidak cukup dengan itu, dibina pula gelanggang-­gelanggang futsal dan padang permainan di kawasan perumahan - semuanya sebagai dorongan untuk mengamalkan gaya hidup sihat.

Maka kenapa pula terkecuali dalam isu lesen memandu? Mungkin boleh sahaja pemandu di negara ini berterusan memandu tanpa lesen.

Pada Mei lalu, polis memaklumkan kira-kira 630,000 pemandu ditahan kerana memandu tanpa lesen sementara ada pihak menganggarkan angka sebenar mungkin melangkaui 1.2 juta pemandu di seluruh negara.

Dengan kadar caj dikenakan sekolah memandu dan difahamkan turut mendapat restu JPJ (kenyataan Pima pada 4 Oktober lalu) adakah sesiapa akan terkejut apabila begitu ramai pemandu di jalan dan lebuh raya tidak mempunyai lesen sah?

Hakikatnya, lesen memandu adalah satu keperluan asas seperti rumah, makanan dan ubat, janganlah di­biarkan harga terlampau tinggi hingga rakyat tidak mampu mendapatkannya. Dikhuatiri ia bakal jadi seperti harga semasa rumah - hanya mampu tengok bukannya mampu milik!

Tentang kos tersirat, antara jawapan klise yang sering diberikan - kos operasi, sewa kenderaan, minyak dan gaji minimum. Biasalah berniaga ada untung rugi, tetapi adilkah jika semua itu dibebankan kepada pengguna?

Jika alasan itu diterima pakai, maka bolehlah pengusaha restoran, pemborong barangan keperluan, pengusaha pengangkutan awam menaikkan siap-siap harga perkhidmatan atas rasional ‘kemungkinan’ bakal rugi kerana ketiadaan pelanggan!

Pengusaha sekolah memandu kena ingat bahawa mereka juga pengguna dan pelanggan yang turut bakal terkena tempias. Apabila harga mencanak naik di restoran, barangan keperluan, tambang pengangkutan - kenalah reda dan jangan sesekali jadi ‘angin satu badan’ apabila turut menjadi mangsa.

Monday, December 5, 2016

Misteri Letak G-Spot, Titik Orgasme Wanita

PERCAYAKAH anda akan keberadaan G-spot? G-spot (Gräfenberg Spot) merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan suatu area tersembunyi pada vagina wanita yang mampu memberikan sensasi menyenangkan, bahkan dapat memicu terjadinya orgasme (vaginal orgasm) jika dirangsang dengan tepat.

Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh dr. Ernst Gräfenberg, seorang ginekolog yang terkenal karena penelitiannya mengenai alat kelamin wanita. Dia telah mendeskripsikan area ini pada tahun 1950 dan selanjutnya pada tahun 1982 istilah ini mulai dituliskan dalam buku yang berjudul “The G Spot: And Other Discoveries About Human Sexuallity” sehingga membuat istilah G-spot menjadi terkenal.

Pada beberapa wanita, rangsangan pada G-spot dipercaya mampu memberikan orgasme yang lebih hebat dibandingkan rangsangan pada klitoris. Hal tersebut memicu sebagian besar wanita untuk mencari lokasi G-spot mereka.

Banyak orang percaya bahwa area wanita yang sangat sensitif ini terletak pada dinding depan vagina. Namun, sebenarnya lokasi G-spot belum dapat teridentifikasi secara tepat. Bahkan para peneliti masih memperdebatkan keberadaan area ini.

G-Spot, di Klitoris atau di Tempat Lain?
Direktur Sexual Medicine di Rumah Sakit Alvarado, San Diego, California, dr. Irwin Goldstein, menyatakan bahwa lokasi G-spot sulit untuk diidentifikasi karena G-spot bukanlah suatu struktur anatomis yang dapat dilihat seperti bagian tubuh lainnya, namun merupakan suatu perubahan fisiologis tubuh, seperti perubahan yang terjadi saat menelan atau buang air kecil.

Untuk membuktikan keberadaan G-spot, para peneliti dari Perancis yang terdiri dari Odile Buisson dan Pierre Foldes melakukan sebuah penelitian yang telah dipublikasikan oleh Journal of Sexual Medicine pada tahun 2009.

Dalam penelitian tersebut, Buisson dan Foldes melakukan pemeriksaan ultrasound terhadap vagina 5 orang wanita sehat yang menyatakan bahwa dirinya memiliki G-spot.

Dari penelitian tersebut diketahui bahwa saat dilakukan penetrasi vagina dan kontraksi perineum (seperti saat berhubungan seksual) terdapat perubahan pada pangkal klitoris yang berhubungan langsung dengan dinding depan vagina bagian bawah, yaitu tempat yang dipercaya sebagai lokasi G-spot.

Karena itu, mereka menyimpulkan bahwa G-spot mungkin sebenarnya merupakan bagian dari klitoris, yang terdiri dari kumpulan ujung-ujung saraf yang sangat sensitif.

G-Spot, Benar Ada atau Mitos?
Namun, pada penelitian terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari King’s College London dinyatakan bahwa G-spot sebenarnya tidak ada, baik secara fisik maupun secara fisiologis.

Penelitian yang telah dipublikasikan oleh Journal of Sexual Medicine pada Januari 2010 ini dilakukan terhadap 1.804 wanita kembar yang berusia antara 22-83 tahun.

Dalam penelitian ini, para peneliti yang dipimpin oleh Andrea Burri, MSc tidak melakukan pemeriksaan fisik terhadap wanita-wanita tersebut dalam mencari G-spot, namun mereka hanya diberikan pertanyaan mengenai keberadaan G-spot pada diri mereka.

Jika G-spot benar-benar ada, maka diharapkan pasangan kembar identik akan memberikan jawaban yang sama mengenai keberadaan G-spot dalam diri mereka karena pasangan kembar identik akan berbagi gen yang sama.

Dari penelitian tersebut didapatkan 56 persen responden mengatakan bahwa dirinya memiliki G-spot. Namun, tidak terdapat kaitan genetik diantara mereka yang percaya bahwa dirinya memiliki G-spot. Faktor lingkungan atau psikologis lebih berkontribusi dalam menentukan kepercayaan seseorang bahwa dirinya mempunyai G-spot.

Setiap Wanita Memiliki “G-Spot” Berbeda-beda
Menurut para peneliti, hal ini mungkin terjadi karena sebenarnya G-spot tidak ada, baik secara fisik maupun fisiologis. Burri menyimpulkan bahwa G-spot hanyalah opini subyektif wanita saja.

Debby Herbenick, peneliti dari Indiana University, menambahkan bahwa G-spot bukanlah sesuatu yang dapat dilihat, namun sudah diterima secara umum bahwa wanita mendapatkan sensasi menyenangkan atau bahkan mengalami orgasme, jika dirangsang di dinding depan vagina.

Setiap wanita memiliki sensitivitas yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh banyak hal dan bersifat sangat subjektif. Dengan adanya perbedaan ini, setiap wanita harus selalu mengeksplorasi tubuhnya dan mencari tahu apa yang sebenarnya mereka sukai.

Bicarakanlah hal tersebut kepada suami dan temukanlah G-spot Anda masing-masing. Sudahkah menemukan G-spot Anda?

Sumber : Okezone

Sunday, December 4, 2016

Selamatkan Rohingya

Masyarakat antarabangsa tidak harus menutup mata atas kekejaman yang berterusan terhadap etnik Rohingya di Myanmar yang semakin menjadi-jadi sejak ke­belakangan ini. Melihat kepada krisis kemanusiaan di sana yang kian buruk, semua masyarakat global perlu mengambil pendirian bersama untuk menghentikan kekejaman pasukan tentera negara berkenaan di Rakhine, yang menempatkan kira-kira sejuta orang Rohingya.

Laporan media menunjukkan bahawa sejak bulan lalu, ramai yang telah dibunuh, menjadi pelarian manakala imej satelit yang disiarkan oleh Human Rights Watch mendedahkan beratus-ratus rumah di perkampungan mereka telah dibakar.

Pelarian Rohingya yang berjaya sampai di sempadan Bangladesh mendakwa bahawa tentera Myanmar telah membunuh orang lelaki Rohingya, menembak mereka, menyembelih kanak-kanak, merogol wanita, dan membakar rumah mereka serta memaksa mereka melarikan diri dengan menyeberangi sungai ke Bangladesh. Lebih buruk lagi, bantuan kemanusiaan telah terputus kerana pekerja bantuan tidak dibenarkan masuk ke kawasan yang terjejas.

Menurut Pesuruhjaya Tinggi Majlis Hak Asasi Manusia Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (UNHCR), lebih daripada 120,000 Rohingya telah melarikan diri dari Rakhine sejak rusuhan berdarah yang berlaku pada 2012, yang mana ramai di antara mereka menempuh laut bergelora untuk ke Malaysia.

Kekejaman itu kini bertukar menjadi tindakan pembersihan etnik minoriti Rohingya oleh tentera Myanmar, setelah beberapa dekad masyarakat itu mengalami pengasingan, penghinaan, gangguan kekerasan, ketakutan dan keganasan.

Menurut Amnesty International, masyarakat Islam Rohingya mengalami pencabulan hak asasi manusia sejak pemerintahan kerajaan junta Burma bermula tahun 1978. Walau bagaimanapun, ada yang mengatakan kaum Rohingya yang tinggal di Myanmar sejak beberapa ge­nerasi lalu, telah mengalami diskriminasi dan gangguan kekerasan jauh lebih awal disebabkan oleh ketegangan dengan warga majoriti Buddha di negara berkenaan.

Adalah amat menyedihkan apabila warga Rohingya yang tinggal di Myanmar selama banyak dekad, masih dianggap sebagai pendatang asing tanpa izin dan ke­rakyatan mereka dinafikan, terdapat undang-undang yang menyekat perkahwinan dan sijil kelahiran tidak dikeluarkan untuk anak-anak mereka. Tidak dapat dibayangkan bagaimana daifnya keadaan hidup mereka di sana dengan kanak-kanak tidak mempunyai akses kepada pendidikan yang sempurna.

Ramai yang bingung dengan sikap Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto kerajaan awam baharu Myanmar yang membisu mengenai krisis kemanusiaan di negara itu.

Kegagalan Suu Kyi, yang juga ialah ikon hak asasi manusia dan pemenang Hadiah Nobel Keamanan, untuk melindungi masyarakat Rohingya daripada keganasan tentera, dilihat oleh sesetengah pihak sebagai menghalalkan pembunuhan beramai-ramai. Ini juga mungkin kerana beliau tidak bersedia atau tidak dapat mengawal tentera Myanmar.

Jumaat lalu, puluhan ribu penunjuk perasaan berdemonstrasi di jalan raya di Jakarta, Kuala Lumpur, Bangkok hingga ke Dhaka untuk mengutuk kekejaman yang dilakukan terhadap masyarakat Rohingya di Rakhine.

Walaupun kerajaan kita memutuskan untuk tidak menarik keluar pasukan bola sepak negara daripada AFF Suzuki Cup yang dianjurkan bersama oleh Myanmar, kerajaan sedang menggunakan cara lain untuk memberi tekanan kepada negara itu supaya menghentikan keganasan terhadap Rohingya. Kementerian Luar telah mengeluarkan kenyataan mengecam kekejaman di Myanmar dan akan memanggil Duta Myanmar untuk menyatakan pendirian Malaysia. Menterinya, Datuk Seri Anifah Aman juga akan bertemu dengan Aung San Suu Kyi dan pegawai tinggi Myanmar tidak lama lagi.

Sementara kerajaan mengambil inisiatif melalui saluran diplomatik, saya meminta semua rakyat Malaysia yang cintakan keamanan, pertubuhan bukan kerajaan, persatuan belia, badan-badan politik dan bukan politik untuk bersuara menentang kekejaman ini. Jika perlu, demonstrasi aman diadakan setiap minggu sebagai bantahan.

Masyarakat antarabangsa, terutamanya negara yang banyak bercakap mengenai hak asasi manusia, perlu ke hadapan untuk menghentikan kekejaman di Myanmar dan meringankan penderitaan masyarakat Rohingya. Keganasan ini perlu ditangani dengan kerjasama masyarakat antarabangsa.

Tidak seperti kerajaan mereka, media tempatan dan antarabangsa dari Amerika Syarikat, United Kingdom dan negara-negara lain mengutuk keras pembunuhan beramai-ramai di Myanmar dan mendesak Suu Kyi supaya melakukan sesuatu mengenainya. Sudah tiba masanya kerajaan masing-masing mendengar suara rakyat dan mengambil tindakan sewajarnya.

Jika perlu, sekatan ekonomi harus dikenakan semula ke atas Myanmar. Walaupun keganasan terhadap masyarakat Rohingya sudah berlarutan selama bertahun-tahun, ba­nyak negara dan pelabur asing terus melabur dan berdagang dengan negara itu. Beberapa tahun kebelakangan ini, institusi seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan Kesatuan Eropah telah meningkatkan bantuan sokongan pembangunan kepada Myanmar.

Malaysia, sebagai anggota Majlis Keselamatan Bangsa-Bangsa Bersatu, boleh memainkan peranan dengan mendesak PBB supaya bertindak tegas dengan me­ngenakan sekatan ke atas Myanmar.

Dalam pada itu, tekanan antarabangsa juga diperlukan untuk memastikan bantuan kemanusiaan sampai kepada masyarakat Rohingya. Adalah penting bagi masyarakat antarabangsa membantu mengurangkan penderitaan pelarian Rohingya dan juga mereka yang masih berada di Rakhine.